Berubah & Bangkit…

SEUNTAI RENUNGAN

*Tidak ada orang baik yang tidak punya masa lalu, dan tidak ada orang jahat yang tidak punya masa depan*.

*Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik. Bagaimanapun masa lalunya dahulu, sekelam apa lingkungannya dulu, dan seburuk apa perangainya di masa lampau. Berilah kesempatan seseorang untuk berubah. Karena, seseorang yang hampir membunuh Rasul pun kini berbaring di sebelah makam beliau. :Umar bin Khattab.*

*Jangan melihat seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang pernah berperang melawan agama Allah pun akhirnya menjadi pedang-nya Alloh : Khalid bin Walid.*

*Jangan memandang seseorang dari status dan hartanya, karena sepatu emas fir’aun berada di neraka, sedangkan sandal jepit bilal bin rabah terdengar di syurga.*

*Jangan memandang remeh seseorang karena masa lalu dan lingkungannya, karena bunga teratai tetap mekar cantik meski tinggal di air yang kotor*.

*Hingga untuk jadi hebat yang diperlukan adalah kuatnya tekad.*
*Tak perlu pusingkan masa lalu, tak perlu malu dengan tempat asalmu, jika kau mau, kamu bisa menjadi laksana bunga teratai yang tinggal di air yang kotor namun tetap mekar mengagumkan.*

 *Berubah dan bangkit jauh lebih indah dari pada diam dan hanya bermimpi tanpa melakukan tindakan apapun.

لا حول ولا قوة إلا بالله

Semua anak itu cerdas, dan kecerdasan itu harus dibarengi kesholihan

Bermain sambil belajar, belajar juga harus sambil bermain, itulah dua hal yang identik dengan proses kegiatan dalam pendidikan anak usia dini.

Semua anak anak mempunyai kecerdasan, dan mereka mempunyai bakat yang berbeda. Bermain dan belajar bersama, merajut kebersamaan di lingkungan yang islami tentu akan lebih bermakna, selangkah demi selangkah mereka tumbuh dalam nuansa pendidikan islami.

“Bu guru…, besok kalau gede aku ingin jadi dokter yang rajin sholat…” ungkap Aileen- seorang murid kelas TK-A, “aku juga ingin jadi dokter yang rajin sholat dan hafal AlQur’an” sahut Nasya- murid TK B. Subhanalloh … semoga impian mereka terus merekat…

Aku bisa, insyaAlloh bisa… ku takkan berputus asa…
IbnuHajar takkan menyerah… Yes Yes Yes

 

Update News…

Pemahaman aqidah adalah prioritas dalam penerapan pendidikan karakter

Setiap kita terikat dalam ikatan tauhid, yakni beriman kepada Alloh SWT dengan MEMAHAMI AQIDAH SECARA BENAR merupakan keharusan untuk diprioritaskan. Seorang Muslim hendaknya berakhlaq dengan perilaku terpuji, maka aqidahnya harus terbebas dari penyimpangan. Konsep etika dalam Islam terbungkus dalam bingkai keyakinan yang benar. Aqidah sebagai pengontrol aktifitas kita.  Segala yang kita perbuat  akan diminta pertanggungjawaban.  Hanya Alloh-lah pemilik sifat yang Maha Tinggi, tidak ada sekutu bagi-Nya.  Oleh karenanya dengan sendirinya karakter seseorang akan terkontrol ketika selalu konsisten dan disiplin ta’at kepadaNya.

Keharusan untuk menanamkan aqidah dalam setiap konteks pendidikan karakter adalah satu hal yang membuat karakter itu kuat dan bernilai, sebagai benteng yang kokoh meski menghadapi pesatnya perkembangan zaman yang semakin canggih, semakin modern, sekaligus semakin serba mudah untuk merubah pola pemikiran dan gaya hidup manusia.

Sungguh.. kita selalu mengharapkan munculnya generasi generasi yang hebat dan berakhlaq mulia, ilmuwan ilmuwan yang santun, yang tawaddlu’, pejabat negara yang selalu jujur, pemimpin yang adil dan bersih…, yang takut kepada Rabb-nya, serta menjunjung tinggi nilai nilai Islam untuk kemaslahatan dunia hingga ke akhirat kelak.

-di kutip dari berbagai sumber-

Hujan…, alhamdulillah..

Jarum jam hampir menunjuk angka 12, siang hari yang indah saat murid murid TKIT IbnuHajar kelas Makkah sedang istirahat dan makan bersama, tiba tiba terdengar suara petir yang mengagetkan…, “Subhanalloh…” semua pada nengok ke jendela, “Wah hujan…, gimana nih…!” seorang anak tampak panik. “Ya sudah.., bersyukur aja.. gitu ya Bu Guru…!” hibur beberapa teman, “Betul… bersyukur aja.. alhamdulillah…” sahut Bu Guru. Subhanalloh… anak anak sudah mulai biasa, selalu bersyukur, dan tidak panik ketika ada hujan…, “Hujan…, alhamdulillah..”.

Akibat Buruk Bagi Orangtua yang Sering Membanding-bandingkan Anak

Sikap suka membanding-bandingkan anak sering ditemui pada ibu baru. Berbagai hal dibandingkan, mulai dari berat badan bayi, kemampuan motorik anak, sampai pola asuh. Menurut Kathy Seal, psikolog, sikap suka membanding-bandingkan tersebut adalah hal yang normal. Bahkan ia menyebutnya sebagai insting bertahan hidup alami manusia.

“Kita memang terprogram untuk mendorong anak-anak berkompetisi. Bahkan, anak-anak di zaman nenek moyang kita harus kuat agar bisa bersaing dalam berburu. Karena itu hal yang natural jika kita anak kita punya keterampilan yang lebih,” kata penulis buku Pressured Parents, Stressed-out Kids: Dealing With Competition While Raising a Successcufl Child ini.

Meski begitu, sikap terlalu ingin bersaing dan membandingkan bisa membuat kita stres. Sikap ini juga membuat kita kurang menghargai apa yang sudah dicapai anak.

 

Berikut adalah beberapa hal yang sering dibandingkan para ibu:

-Tahapan tumbuh kembang

Sebagai ibu kita memang wajib memperhatikan ada tidaknya gangguan atau keterlambatan tumbuh kembang anak. Sehingga tak heran jika kita sering cemas jika anak belum mampu menguasai motorik kasar di usia tertentu. Namun tahapan tumbuh kembang anak sangat bervariasi, entah itu saat mereka mulai duduk, merangkak, atau berjalan. Karena itu sebaiknya Anda tidak perlu khawatir sejauh anak mencapai milestone pada rentang waktu yang masih normal. Nikmati dan hargai kemampuan anak pada saat ini. Selalu ingatkan diri sendiri bahwa kita tak bisa memaksa anak mencapai milestone tertentu jika mereka belum siap.

 

– Waktu tidur

Banyak orangtua baru yang merasa kelelahan mengasuh si kecil karena mereka terkadang sulit tidur di malam hari. Memang ada bayi yang tidur nyenyak di malam hari, tetapi sebagian lain sulit terpejam dan sebentar-sebentar bangun. Seperti halnya tumbuh kembang bayi, pola tidur anak juga bervariasi. Karena itu daripada Anda sibuk bertanya bagaimana cara membuat bayi tidur dan hal itu tidak berhasil pada bayi Anda, lebih baik fokus pada upaya agar Anda bisa selalu ikut tidur saat bayi juga tidur. Jika bayi memang sulit tidur, Anda bisa meminta tolong pengasuh, suami, atau orangtua Anda, untuk menggantikan menggendong bayi sehingga Anda bisa beristirahat sebentar.

– Perilaku anak

Anak-anak memang “milik” orangtuanya, tetapi kita tidak bisa memilih temperamennya. Seperti halnya warna kulit, banyak sifat dan perilaku anak yang merupakan bawaan sejak lahir. Meski si kecil tidak selalu bersikap manis, tetapi kita tetap perlu menerapkan disiplin atau koreksi halus saat ia melakukan sesuatu yang berbahaya, tidak sopan, atau merusak. Namun, jika sudah berhadapan dengan sesuatu yang memang merupakan sifatnya, bersikap menerima adalah kuncinya. Jika Anda orang yang supel sementara si kecil pemalu, atau Anda suka olahraga sementara anak lebih suka menari, yang bisa Anda lakukan adalah menerima apa adanya si anak.

– Menu makanan

Anda merasa kagum sekaligus iri karena teman Anda bisa membuat rumahnya selalu rapi dan juga rajin membuat makanan untuk bayi dengan resep yang selalu berganti.Membandingkan diri sendiri dengan “ibu super” hanya akan membuat Anda merasa rendah diri, bahkan merasa gagal. Bersikaplah realistis dan luangkan waktu untuk fokus pada pola asuh Anda sendiri. Cari apa yang paling Anda banggakan. Ini bukan berarti Anda tidak boleh bersaing, tetapi daripada membuat diri merasa frustasi, lebih baik ambil pelajaran dari para ibu hebat itu. Lagi pula, tanpa Anda sadari mungkin Anda juga membuat iri para ibu lain.

 

Sumber : BABYCENTER